Memupuk Paradigma Ekonomi Mandiri

Perkembangan teknologi informasi menggiring dunia pada era yang oleh Thomas Friedman dinamakan globalisasi 3.0. Di era ini, persaingan tidak didasari lagi oleh kekuatan negara kolonial atau back up perusahaan multinasional, melainkan oleh kemampuan individu untuk mengembangkan dirinya. Kemampuan sebuah bangsa akan amat tergantung oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. Namun, hal tersebut tidaklah cukup tanpa diikuti oleh pengembangan paradigma ekonomi mandiri.

Menjaga Langit Demokrasi

Alhamdulillah ini tulisan saya kedua yang dimuat di harian koran sindo. Ternyata bukan semata-mata kualitas dari tulisan itu sendiri yang membuat dimuat. Namun perlu timing yang tepat. Sebelumnya tulisan yang sama kirim pada malam hari sekitar jam 11 malam. Keesokan harinya saya tak menemukan tulisan saya dimuat. Namun tulisan ini saya kirim lagi beberapa hari […]

Perpustakaan Inklusif bagi Semua

Di zaman moderen yang sudah berbasis teknologi informasi, perpustakaan moderen semakin mudah dan nyaman bagi penggunanya. Bermula dari perpustakaan tradisional yang tidak menggunakan katalog, perpustakaan semi moderen mulai dilengkapi oleh katalog (Romi Satria Wahono, 2006). Katalog adalah kumpulan informasi mengenai buku-buku yang terdapat dalam perpustakaan. Hingga akhirnya katalog ini tidak tersedia lagi dalam bentuk tertulis. Katalog dalam perpustakaan moderen, dibuat dalam bentuk media elektronik. Kita kenal istilah opac atau on-line catalog yang tersedia dalam perpustakaan yang sudah berbasis teknologi informasi. Dengan Opac, pengguna perpustakaan tidak perlu lagi menelusuri daftar dalam katalog yang panjang dan melelahkan, tapi hanya perlu memasukan kata kunci berupa judul buku, pengarang, atau kategori untuk buku yang ingin dicari. Hal ini semakin mempercepat pencarian akan sebuah informasi. Selain itu, dengan Opac pengguna perpustakaan bisa mencari sebuah buku yang terdapat dalam perpustakaan lain selama masih tergabung dalam satu jaringan perpustakaan. Seperti yang diterapkan di universitas, perpustakaan dari tiap fakultas dapat diakses dalam satu opac yang mengintegrasikan semua katalog. Pengguna perpustakaan akan sangat dipermudah dengan kemajuan teknologi ini. Tidak diperlukan lagi menyelesuri masing-masing katalog dari tiap perpustakaan. Cukup dengan satu opac, suatu judul buku dapat ditemukan walaupun kita belum tahu ada diperpustakaan mana buku tersebut disimpan.

Masih Adakah Nasionalisme Kita?

Sering kita dengar mengenai kata nasionalisme. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan nasionalisme?. Menurut beberapa informasi yang saya tahu, nasionalisme itu berasal dari kata nation, yang artinya bangsa. Jadi kata nation jika ditambah dengan akhiran isme yang sudah kita tahu yaitu paham, berarti nasionalisme adalah paham yang menjunjung tinggi rasa kebangsaan. Atau singkat kata rasa cinta tanah air.

Antisipasi Bencana dengan Back to Nature

Menjelang berakhirnya tahun 2010, Indonesia dirundung bencana. Mulai dari banjir bandang yang menerjang Wasior di Papua, gempa dan tsunami di kepulauan Mentawai, dan saat ini gunung Merapi masih membara di Yogyakarta. Fakta ini mengingatkan masyarakat bahwa gugusan kepulauan nusantara memang rawan akan bencana. Letak Indonesia yang strategis sekaligus berbahaya ini, sudah seharusnya melahirkan penduduk yang mampu meminimalisasi dan mengantisipasi dampak suatu bencana alam.

Pemilih Cerdas Mewujudkan Depok Berkarakter

Pemilihan umum (PEMILU) merupakan salah satu indikator sebuah negara demokrasi. Di dalamnya selalu ada harapan yang tercermin dari pilihan pemilih. Sama halnya dengan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) kota Depok yang akan diselenggarakan tanggal 16 Oktober 2010. Banyak harapan baik dari penduduk kota Depok, atau dari mereka yang sehari-hari selalu berinteraksi dengan kota yang masih menjadi bagian dari provinsi Jawa Barat ini.

Inkonsistensi Pembangunan Kota Berkelanjutan

Entah dimulai dari mana, isu yang sedang berkembang di public Jakarta saat ini adalah tentang kota yang dirasakan semakin tidak nyaman. Mulai dari masalah banjir, polusi, dan tentu saja kemacetan lalu lintas. Semua ini saling terkait memepati rutinitas padat penduduk kota Jakarta, sehingga mulai ada wacana untuk memindahkan ibu kota ke luar Pulau Jawa.