Pendahuluan

Perempuan adalah laki-laki yang tidak sempurna. Ungkapan dari Plato, filsuf tersohor Yunani, serasa mampu melukiskan konstruksi sosial yang dikenakan pada diri perempuan. Dalam ubungan sosialnya di masyarakat, kedudukan perempuan  terkadang masih dirasakan ada ketimpangan yang nyata. Mereka masih dianggap sebagai objek pasif, bukan subjek dengan kemampuan untuk berbuat sesuatu atas dirinya sendiri. Hal ini dapat terlihat jelas dengan bagaimana kedudukan perempuan yang dinilai subordinat dalam hubungannya dengan kaum laki-laki. Dengan pola fikir patrialki yang masih kuat, perempuan hanya dilihat lewat kacamata kaum laki-laki dan parameter yang tak berimbang.

Lebih jauh lagi, tindakan “sepihak” ini, telah menempatkan perempuan sebagai second sex person. Mereka tidak memiliki kedudukan yang sejajar dengan kaum laki-laki. Selalu menjadi nomer dua dalam berbagai hal seperti pekerjaan, pendidikan, dan budaya. Ada restriksi sistemik yang berlaku dan dibuat untuk menghambat akses perempuan untuk mencapai kesetaraan. Semua begitu terbatas didukung oleh konstruksi-konstruksi yang berlaku.

Melihat kenyataan ini, maka muncullah gerakan- gerakan perempuan menuntut kesetaraan gender. Mereka meminta dekonstruksi terhadap stigma diskriminatif dari apa yang telah terbentuk dalam masyarakat selama ini. Dalam praktiknya, gerakan-gerakan seperti ini dinamakan Feminisme. Dikutip dari Kartika Pemilia (2009), secara umum kata feminisme dapat diartikan sebagai “gerakan kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarjinalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial lainnya”. Gerakan ini bermula pascameletusnya revolusi Amerika dan revolusi Perancis di akhir abad ke-18. Revolusi besar yang membawa angin kebebasan itu, turut membuka fikiran para perempuan atas perlakuan tidak adil yang didapatkannya dalam masyarakat.

Kesetaraan yang dimaksudkan dalam gerakan ini bukanlah untuk mentiadakan peranan laki-laki. Mereka hanya menuntut apa yang seharusnya menjadi hak mereka sebagai seorang perempuan. Seperti apa yang dapat dilihat dalam buku Glosarium Seks dan Gender (2007), kesetaraan gender yang dimaksud meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Kesetaraan kesempatan dan hasil untuk perempuan dan laki-laki, termasuk penghapusan diskriminasi dan ketidaksetaraan struktural dalam mengakses sumber daya, kesempatan, dan jasa-jasa.
  2. Kesamaan perolehan kesempatan dan hasil untuk perempuan dan laki-laki, termasuk penghapusan diskriminasi dan ketidaksetaraan struktural dalam mengakses sumber daya, kesempatan, dan jasa-jasa, seperti akses yang sama untuk kesehatan, pendidikan, sumber daya produktif, partisipasi sosial, dan ekonomi.[1]
  3. Jika ditilik lebih dalam, terdapat beberapa jenis pendekatan feminisme. Hal ini terkait dengan bagaimana teori feminisme itu digunakan dalam mendobrak ketidakadilan gender. Di antara dari jenis pendekatan teori feminisme itu ada yang bersifat radikal, liberal, atau moderat. Namun, dalam prinsipnya ada kesamaan dari varian-varian tersebut seperti yang diutarakan oleh Dominelli dalam Edi Suharto (2009).

    1. Menjunjung hak asasi wanita untuk terbebas dari penindasan.
    2. Memberi kesempatan pada wanita untuk berbicara atas nama dirinya dan berdasarkan suaranya sendiri.
    3. Mendengarkan terhadap apa yang seharusnya dinyatakan oleh wanita.
    4. Mengintegrasikan teori dengan praktik.
    5. Mencari gaya hidup alternatif di sini dan saat ini.
    6. Mencari kesesuian antara tujuan yang ingin dicapai dengan cara-cara pencapaian tujuan itu.
    7. Memetakan solusi-solusi kolektif yang menghargai individualitas dan keunikan wanita.
    8. Menghargai Kontribusi wanita.
    9. Menggunakan pengalaman-pengalaman wanita secara individu guna memaknakan realitas sosial.[2]
    10. Fenomena gerakan feminisme ini pun tidak luput menjamah dunia media komunikasi dan sastra. Sebagai produk dari budaya, media dan sastra menjadi refleksi dari gejala-gejala sosial yang sedang terjadi di masyarakat. Sifat ini dapat saling timbal balik atau saling mempengaruhi. Di satu sisi, fenomena sosial budaya dapat mempengaruhi apa yang terjawantah dalam media dan sastra. Namun di sisi lain, media dan sastra yang ada mampu membentuk sebuah wacana untuk memberikan pengaruhnya dalam masyarakat. Oleh sebab itu, lahirlah apa yang dinamakan dengan Discourse Analysis atau analisis wacana.

      Menurut Barbara Johnstone dalam bukunya Introduction to Discourse Analysis (2002: 4), analisis wacana dapat dimaknai sebagai sebuat metodologi atau kumpulan metode yang bertugas untuk menjawab berbagai persoalan mengenai wacana. Wacana yang dimaksud dalam pembahasan ini tidak melulu pada teks tertulis, namun dapat lebih jauh dan luas lagi. Seperti wacana yang terbentuk pada iklan, film, poster propaganda, cerita rakyat, percakapan, pidato, dan berbagai teks baik verbal atau nonverbal.

      Dalam tiap wacana terdapat ideologi atau maksud tersirat di baliknya. Terkait dengan ini, pendekatan analisis wacana memiliki tugas untuk mengungkap ideologi yang berada di dalam teks (Yuwono, 2008: 2). Berdasarkan teknik bahasa dan konteks yang terbangun di dalam teks, pengamat mampu mengetahui apa yang hendak disampaikan oleh si pembuat teks lebih kritis. Hal ini tentu saja akan berbeda dengan pengamat yang memandang teks tersebut tanpa pendekatan analisis wacana. Seperti halnya pada teks-teks iklan. Seseorang tanpa pendekatan analisis wacana, akan melihat iklan produk pemutih kulit sebagai upaya produsen untuk menjual barang produksinya kepada konsumen. Namun dengan pendekatan tersebut, akan dapat terungkap bahwa ada ideologi pascakolonial yang ingin dibangun si pembuat iklan kepada konsumen. Bagaimana tentang konsep bahwa perempuan yang cantik ialah mereka yang berkulit putih, dan seterusnya.

      Rekomendasi Artikel:

      Kata Kunci

      Sudah Baca yang Ini?

      Pages: 1 2 3 4