Sejarah Perkembangan Pendidikan di Indonesia

Sejarah Perkembangan Pendidikan di Indonesia

Pendahuluan

Pendidikan merupakan salah satu hak dasar manusia. Sebagai insan yang dikarunia dengan akal pikiran, manusia membutuhkan pendidikan dalam proses hidupnya. Dari mulai lahir hingga ke liang lahat, menusia yang berfikir akan selalu membutuhkan pendidikan. Seperti ketika manusia dapat berjalan pada masa balita. Di sana ada proses belajar yang dibimbing oleh orang tua sebagai pendidik manusia buat pertama kali. Lebih jauh, ketika harus berinteraksi dengan masyarakat, manusia memerlukan pendidikan agar dapat bermanfaat dan memiliki keterampilan yang dibutuhkan.

Menurut undang-undang Sisdiknas No.20 tahun 2003 Bab I, pendidikan dapat dipahami sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam definisi yang ditetapkan oleh  pemerintah Republik Indonesia, dapat dipahami bahwa pendidikan itu tidak hanya ditujukan pada pengembangan kemampuan intelektual manusia. Pendidikan pula ditujukan untuk pengembangan manusia agar menjadi insan yang seutuhnya atau well-rounded person. Selain memiliki kemampuan intelektual, dibutuhkan pula pembinaan sikap mental, moral, dan pembentukan karakter manusia. Sehingga demikian, antara rasio dan nurani dapat saling mengendalikan dan melengkapi.

Menurut Kosasih Djahiri (1980 : 3) dalam http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/11/08/hakikat-pendidikan/, mengatakan bahwa Pendidikan adalah merupakan upaya yang terorganisir, berencana dan berlangsung kontinyu (terus menerus sepanjang hayat) kearah membina manusia/anak didik menjadi insan paripurna, dewasa dan berbudaya (civilized).

Melihat tujuan akhir dari pendidikan adalah membentuk manusia yang berkarakter dengan intelektual, moral, dan budaya, maka akan menarik jika ditelusuri perkembangan kebudayaan Indonesia melalui sejarah pendidikannya. Sebagai salah satu unsur kebudayaan, pendidikan tentu memiliki peranan dalam pengembangan manusia Indonesia. Akan dibahas di bagian ini, bagaimana pendidikan silih berganti dan terus berkembang sesuai dengan keadaan masyarakat dan kebijakan pemerintah di Indonesia/nusantara saat itu.

Sejarah Pendidikan di Indonesia.

Dalam menelusuri sejarah pendidikan di Indonesia, ada baiknya jika pembahasan ini dimulai sejak masa sejarah Indonesia, atau masa dimana tulisan telah ditemukan. Sehingga demikian, sejarah ini akan dijabarkan pada masa pra-kemerdekaan 1945 yang dimulai sejak masa klasik Hindu-Budha hingga pendudukan Jepang, dan masa pasca-kemerdekaan 1945 yang ditandai dengan gonta-ganti kurikulum pendidikan.

Masa pra-kemerdekaan.

  1. Masa hindu-budha.
    Agama hindu dan Budha sudah mulai masuk ke nusantara sejak abad ke-4. Bukti awalnya adalah ditemukan prasasti Yupa Kerajaan Kutai yang menceritakan tentang upacara keagamaan di sana. Di dalam sistem sosial masyarakatnya pun, pendidikan juga sudah mulai berkembang. Pengajaran agama dari para pendeta ke masyarakat dan kalangan bangsawan sudah tentu menggunakan sebuah sistem yang terstruktur. Tulisan Pallawa dan Sansekerta yang digunakan dalam tiap prasasti pun, tentu ada sistem pengajaran yang digunakan sehingga masyarakat pribumi mampu menguasainya.

    Menurut Agus Aris Munandar (1990) dalam http://syaifmipa.blogspot.com/2009/12/sejarah-pendidikan-di-indonesia.html, pendidikan di era klasik ini disebut dengan Karsyan. Karsyan ini menunjuk pada tempat dimana orang yang mengundurkan diri dari hingar bingar masyarakat untuk mendekatkan dirinya pada dewa tertinggi. Di dalam sistem ini, dikenal dua istilah yakni Patapan dan Mandala.

    Patapan adalah kegiatan seseorang yang menjauhi masyarakat dan berdiam di tempat-tempat yang menyendiri. Dalam patapan ini, seseorang akan bertapa untuk merenung dan mendekatkan dirinya kepada dewa. Dengan kegiatan seperti itu, dia bisa lebih memahami ajaran agama melalui kebatinannya. Ciri utama patapan ini adalah tempat yang tidak berupa bangunan. Patapan bisa di goa, pinggir sungai, atas bukit, dan tempat-tempat sunyi lainnya.

    Sedangkan mandala merupakan tempat pengajaran agama yang sifatnya lebih kolektif dan terstruktur. Mandala ini seperti tempat atau bangunan yang biasanya terletak di pinggir kota raja. Baik pendeta atau murid sama-sama diam dan belajar di satu tempat, sehingga terbentuklah nuansa kekeluargaan antar guru dan murid. Selain itu, mandala ini pula dijadikan sebagai simbol kesaktianbagi para raja. Para raja menganggap penting mandala-mandala ini karena dianggap sebagai sumber kekuatan mereka.

  2. Masa Islam.
    Pada masa Islam, sistem pendidikan merupakan akulturasi dari sistem patapan Hindu-Budha dengan konsep menyendiri (Uzlah) yang telah dikenal di Islam. Di masa ini pula, terkadang seseorang butuh untuk menyendiri ke luar masyarkat untuk mendapatkan apa yang dinamakan Ilham atau wangsit. Dari perenungan dan pertapaan ini, seseorang akan memfperoleh pencerahan dan ilmu yang diyakini langsung berasal dari Tuhan.

    Selain itu, sistem mandala yang dikenal masa Hindu-Budha juga dapat dijumpai dengan sistem pesantren dan pemondokan yang ada di masa Islam. Antara ulama/kyai dan santri/murid sama-sama berada di sebuah pondok, yang di sana saling berinteraksi tidak hanya untuk menyerap ilmu, tapi mendapatkan pengalaman hidup yang dimiliki para guru. Di dalam pondok pula, ada pembagian tugas antara ulama dan santri yang mengajarkan tentang makna kerjasama dan tanggung jawab.

  3. Masa VOC.
    Pada masa VOC ( abad 17 – 18), sistem pendidikan dikelola oleh gereja. Sistem ini tidak diatur oleh pemerintah pendudukan, melainkan oleh para pastur atau biarawan. Sistem yang digunakan berlandaskan dengan ajaran agama Nasrani yang mengunakan konsep asrama pula. Namun, pada masa ini, pendidikan hanya untuk tingkat dasar sebatas mengajarkan baca, tulis, dan menghitung.

    Tiap biarawan yang memberikan pengajaran, selalu merangkap pula sebagai guru agama. Lebih jauh, karena pendidikan saat ini diorientasikan untuk kepentingan VOC di nusantara, tia biarawan ini mendapat status juga sebagai pegawai VOC. Lantas, untuk para siswa yang diajar, setelah lulus mereka akan diarahkan untuk menjadi pegawai rendahan VOC yang membantu di bidang administratur.

    Adapun sistem pendidikan di masa VOC ini dapat diuraikan sebagai berikut

    • Pendidikan Dasar
      Berdasar peraturan tahun 1778, dibagi kedalam 3 kelas berdasar rankingnya. Kelas 1 (tertinggi) diberi pelajaran membaca, menulis, agama, menyanyi dan berhitung. Kelas 2 mata pelajarannya tidak termasuk berhitung. Sedangkan kelas 3 (terendah) materi pelajaran fokus pada alphabet dan mengeja kata-kata. Proses kenaikan kelas tidak jelas disebutkan, hanya didasarkan pada kemampuan secara individual. Pendidikan dasar ini berupaya untuk mendidik para murid-muridnya dengan budi pekerti. Contoh pendidikan dasar ini antara lain Batavische school (Sekolah Betawi, berdiri tahun 1622); Burgerschool (Sekolah Warga-negara, berdiri tahun 1630); Dll.
    • Sekolah Latin
      Diawali dengan sistem numpang-tinggal (in de kost) di rumah pendeta tahun 1642. Sesuai namanya, selain bahasa Belanda dan materi agama, mata pelajaran utamanya adalah bahasa Latin. Setelah mengalami buka-tutup, akhirnya sekolah ini secara permanent ditutup tahun 1670.
    • Seminarium Theologicum (Sekolah Seminari)
      Sekolah untuk mendidik calon-calon pendeta, yang didirikan pertama kali oleh Gubernur Jenderal van Imhoff tahun 1745 di Jakarta. Sekolah dibagi menjadi 4 kelas secara berjenjang. Kelas 1 belajar membaca, menulis, bahasa Belanda, Melayu dan Portugis serta materi dasar-dasar agama. Kelas 2 pelajarannya ditambah bahasa Latin. Kelas 3 ditambah materi bahasa Yunanu dan Yahudi, filsafat, sejarah, arkeologi dan lainnya. Untuk kelas 4 materinya pendalaman yang diasuh langsung oleh kepala sekolahnya. Sistem pendidikannya asrama dengan durasi studi 5,5 jam sehari dan Sekolah ini hanya bertahan selama 10 tahun.
    • Academie der Marine (Akademi Pelayaran)
      Berdiri tahun 1743, dimaksudkan untuk mendidik calon perwira pelayaran dengan lama studi 6 tahun. Materi pelajarannya meliputi matematika, bahasa Latin, bahasa ketimuran (Melayu, Malabar dan Persia), navigasi, menulis, menggambar, agama, keterampilan naik kuda, anggar, dan dansa. Tetapi iapun akhirnya ditutup tahun 1755.
    • Sekolah Cina
      Didirikan tahun 1737 untuk keturunan Cina yang miskin, tetapi sempat vakum karena peristiwa de Chineezenmoord (pembunuhan Cina) tahun 1740. selanjutnya, sekolah ini berdiri kembali secara swadaya dari masyarakat keturunan Cina sekitar tahun 1753 dan 1787.
    • Pendidikan Islam
      Pendidikan untuk komunitas muslim relatif telah mapan melalui lembaga-lembaga yang secara tradisional telah berkembang dan mengakar sejak proses awal masuknya Islam ke Indonesia. VOC tidak ikut campur mengurusi atau mengaturnya.
  4. Masa Hindia Belanda.
    Pada masa nusantara dikendalikan langsung oleh Kerajaan Belanda, sistem pendidikan sudah mulai terstruktur. Jenjang-jenjang pendidikan sudah ditetapkan dengan menganut prinsip-prinsip yang jelas. Adapun dalam masa ini, sistem pendidikan masa kolonial dibuat sekuler atau menjauh dari kecenderungan agama atau etnis tertentu. Pemerintah langsung mengelola pendidikan, bukan para biarawan lagi. Selain itu, rekrutmen siswa dibuat secara diskriminatif. Sekolah-sekolah dibuat berdasarkan lapisan sosial di dalam masyarakat. Dengan kata lain, akan dibedakan sekolah baik untuk pelajar keturunan Eropa atau bagi para pribumi. Bahkan sekolah untuk pribumi pun, hanya diperuntukan bagi mereka yang berasal dari kalangan bangsawan atau aristrokat.

    Memasuki abad 20, pendidikan di Hindia Belanda semakin diperhatikan dengan diberlakukannya politik etis. Dalam politik ini, edukasi menjadi salah satu prioritas, selain ada transmigrasi dan irigasi. Namun itikat baiknya, tidaklah semata-mata dibuat untuk keuntungan rakyat nusantara. Orientasi utama dari pendidikan masa ini adalah untuk menghasilkan pegawai-pegawai pemerintahan yang terampil untuk melaksanakan tugas-tugas administrasi di pemerintahan. Dengan kata lain, pemerintah Hindia Belanda ingin mendapatkan tenaga dari pribumi sendiri yang tidak memerlukan upah setinggi pegawai asli Eropa.

    Secara umum, sistem pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda sejak diterapkannya Politik Etis dapat digambarkan sebagai berikut:

    • Pendidikan dasar meliputi jenis sekolah dengan pengantar Bahasa Belanda (ELS, HCS, HIS), sekolah dengan pengantar bahasa daerah (IS, VS, VgS), dan sekolah peralihan.
    • Pendidikan lanjutan yang meliputi pendidikan umum (MULO, HBS, AMS) dan pendidikan kejuruan.
    • Pendidikan tinggi. Hal ini dapat dilihat dengan berdirinya sekolah-sekolah kejuruan. Misal STOVIA(1902) yang kemudia berubah jadi NIAS(1913) dan GHS adalah cikal bakal dari fakultas kedokterannya UI. Rechts School (1922) dan Rechthoogen School (1924).
  5. Masa Pendudukan Jepang.
    Saat perang Asia Timur Raya meletus (1942 – 1945), Indonesia tidak luput dari sasaran pendudukan tentara Jepang. Dengan pasukan gerak cepatnya, tentara Jepang dengan mudah dapat menaklukan pemerintah Hindia Belanda pada awal tahun 1942. Dengan peralihan kekuasaan ini, tentu banyak perubahan baik dari segi politik, ekonomi, sosial, hingga pendidikan. Semua kebijakan yang diterapkan, sudah tentu, ditujukan bagi kepentingan Jepang yang sedang berperang melawan sekutu.

    Di bidang pendidikan, ada perubahan yang jelas terjadi. Salah satunya adalah penggunaan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi pengantar di sekolah. Hal ini tentu sebuah terobosan besar di Indonesia sendiri. Sebelumnya, bahasa pengantar yang digunakan semasa penajajahan Belanda adalah bahasa Belanda atau bahasa daerah masing-masing. Penggunaan bahasa Indonesia ini, secara langsung telah memupuk rasa nasionalisme bangsa Indonesia terhadap identitasnya sendiri.

    Selain itu, sistem sekolah mulai diintegrasikan dan menghapus pembagian sekolah berdasarkan kelas sosial. Pada masa ini, sekolah-sekolah dibuka untuk semua pribumi, tidak untuk para bangsawan saja seperti pada masa kolonial Hindia Belanda. Sekolah-sekolah Belanda ditutup, dan semua diganti dengan sekolah yang dijalankan langsung oleh pemerintah.

    Adapun sistem pendidikan di masa Jepang ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

    • Pendidikan Dasar (Kokumin Gakko / Sekolah Rakyat). Lama studi 6 tahun. Termasuk SR adalah Sekolah Pertama yang merupakan konversi nama dari Sekolah dasar 3 atau 5 tahun bagi pribumi di masa Hindia Belanda.
    • Pendidikan Lanjutan. Terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun.
    • Pendidikan Kejuruan. Mencakup sekolah lanjutan bersifat vokasional antara lain di bidang pertukangan, pelayaran, pendidikan, teknik, dan pertanian.
    • Pendidikan Tinggi.

    Namun, kebijakan ini tentulah bukan tanpa alasan dan keuntungan bagi pemerintah Jepang. Dalam upaya menggalang dukungan dari bangsa Indonesia, Jepang berusaha menarik simpati rakyat dengan menerapkan kebijakan kesetaraan dan menunjukan nilai-nilai keindonesiaan. Seperti dalam penggunaan bahasa Indonesian dan penghapusan sistem sekolah yang diskriminatif. Tentu hal ini ditujukan agar rakyat pro Jepang, dan mau membantu Jepang dalam memerangi sekutu yang tak lain adalah bangsa kolonial barat.

    Lebih jauh, pada masa ini, dibentuk pula pendidikan semi militer untuk rakyat. Jika pada masa kolonial Belanda rakyat tidak diberikan pendidikan militer, pada masa Jepang ini, rkayat Indonesia diberikan akses ke sana. Seperti dibentuknya Heiho dan PETA. Kedua lembaga tersebut mendidik rakyat Indonesia mengenai strategi perang dan teknis-teknis perang modern. Kelak, di masa revolusi kemerdekaan, lembaga-lembaga pendidikan militer buatan Jepang ini amat berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2

2 Comments

  1. terima kasih apresiasinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,142 other subscribers

Top Blog