Substansi Tubuh dalam Konteks Sosial Amerika

Substansi Tubuh dalam Konteks Sosial Amerika

Judul : ”The Story of My Body”
Penulis : Judith Ortiz Cofer.

Telah dibahas dalam jurnal sebelumnya mengenai definisi gender yang merupakan konstruksi sosial masyarakat. Kali ini, Cofer akan menceritakan pengalamannya mengenai pandangan budaya masyarakat terhadap konsep cantik dan ideal pada tubuh seseorang.

Cofer dilahirkan sebagai bayi perempuan di Poertoriqo dari kedua orang tua yang juga Poertoriqo. Pada masa kanak-kanak, keluarganya pindah ke Amerika Serikat. Di Poertoriqo, ia dibilang sebagai gadis kecil dengan badan relatif tinggi. Namun di Amerika Serikat, teman di sekolah sering mengatainya tulang kurus atau udang, karena ukuran badannya yang paling kecil dalam kelas. Selain itu, dilahirkan dalam keadaan kulit putih di Poertoriqo, menjadi kulit coklat di Amerika Serikat. Ukuran putih yang sudah dibilang cantik di Poertoriqo, menjadi coklat di mata orang Amerika Serikat. Di Poertoriqo, ia sering dipuji sebagai gadis yang cantik dengan perpaduan rambut gelap dan kulit yang pucat. Namun kulit yang berwarna, adalah suatu masalah di Amerika Serikat. Walaupun di Poertoriqo kulit hitam atau gelap dianggap tidak baik, begitu pula apa yang terjadi di Amerika Serikat yang mayoritas berkulit putih.

Pengalaman buruk pertama Cofer mengenai tubuhnya terjadi pada saat kira-kira ia berumur 9 tahun. Waktu itu adalah saat Natal. Ia seperti biasa, disuruh ibunya berbelanja ke supermarket yang berada beberapa blok dari apartemen keluarganya tinggal. Berhubungan dengan uang dan berjalan-jalan adalah salah satu kegemarannya. Supermarket itu dimiliki oleh tiga orang Italia bersaudara. Ia menyukai yang paling muda, karena sering memandanginya dengan penuh minat dan ramah tamah. Tapi yang dua orang tertua, sering mencurigainya dengan anak Poertoriqo yang lain kalau-kalau mereka mencuri barang belanjaan.

Di dalam supermarket itu, ada sebuah boneka guru perempuan berambut pirang yang sudah selama seminggu ini menjadi perhatian Cofer kecil. Setiap selesai berbelanja, ia sempatkan beberapa saat untuk memandangi boneka itu. Hinga pada suatu saat, kejadian itu tiba begitu cepat. Ia menyentuh rambut pirang boneka itu dengan jarinya. Padahal Ia tahu, bahwa jangan pernah menyentuh apa pun jika kau tak ingin membelinya. Seketika pemilik toko itu berteriak kepadanya. Mengetahui itu, Cofer berlari keluar pintu. Namun saat berlari itu, ia mendengar pemilik toko itu berkata yang menghina keadaan fisiknya. Ia berkata bahwa orang Poertoriqo memiliki warna kulit coklat yang terlihat kotor di sana, jangan pernah kembali lagi kecuali untuk membeli sesuatu di sini.

Saat pulang ke rumah, ia pulang dan merenungkan apa benar kulitnya kotor. Ia kemudian membasuh tangannya dengan air hangat, dan mendapati tak ada perubahan warna pada kulitnya. Kulitnya memang tidak kotor, namun warna itu telah dianggap kotor oleh orang berkulit putih. Keadaan fisik tubuhnya yang dianggap cukup cantik bagi orang Poertoriqo, ternyata tak berarti sama sekali di budaya orang berkulit putih.

Pelecehan terhadap keadaan fisik Cofer yang dinilai terlalu kurus dan pendek, berlanjut di sekolah setiap pelajaran olahraga. Di setiap pelajaran, Ia tak pernah diajak untuk bermain dalam tim bola volly atau baseball. Yang dia lakukan hanya duduk di pinggir lapangan dan membaca buku, atau pergi sekalian ke perpustakaan dekat sekolah. Walaupun nilai akademis di rapornya selalu bagus, hanya satu nilai yang buruk yaitu nilai pelajaran olahraga.

Pada saat itu, yang menjadi trend bagi para gadis adalah ukuran badan yang tinggi dan besar. Cofer merasa dirinya terlalu kurus untuk bisa dikatakan ideal dalam perspektif masyarakat tempatnya berada saat itu. Sampai ia pernah melihat iklan di televisi mengenai program untuk membuat tubuh agak lebih gemuk, tapi ia tahu, program itu sia-sia. Ia sudah diberitahu ibunya agar lebih banyak makan, dan itu cukup untuk membuat lebih gemuk. Tapi tetap tak ada pengaruh untuk tubuhnya yang kurus. Ibunya sendiri, adalah perempuan Latin yang cantik dengan rambut keriting panjang hitam yang memenuhi standarisasi cantik bagi orang latin. Namun hal itu tidak terjadi pada cofer di lingkungannya yang baru.

Di sekolah, cofer bukanlah gadis yang populer di kalangan anak laki-laki. Bahkan pernah satu pengalaman buruk lagi. Ketika sedang melewati lapangan sekolah, salah satu anak laki-laki Poertoriqo mengomentari keadaan fisiknya dengan anak laki-laki lain. Salah satu dari mereka berkata walaupun Cofer memiliki otak yang brilian, tapi jangan lihat ke kakinya yang kurus seperti tusuk gigi itu. Di kelas gurunya pun membagi murid-muridnya menjadi beberapa orang yang difavoritkan. Sebut saja ada gadis kulit putih cantik, gadis Yahudi cantik, Gadis Poertoriqo cantik, dan gadis kulit hitam cantik. Namun, dua kategori yang belakangan tak pernah dianggap sama sekali sebagai yang memenuhi kategori cantik.

Saat memasuki sekolah tinggi, Cofer bertemu dengan seorang pria yang sangat mempesonanya. Dia bernama Ted, pria kulit putih, dengan rambut kuning yang menawan. Cofer sangat tergila-gila dengannya dan menganggap Ted adalah segalanya. Mereka bertemu dalam tempat latihan dansa. Mereka berdansa bersama dan saling mencinta. Hingga suatu saat Cofer menyampaikan niatnya untuk berkencan dengan Ted kepada orang tuanya. Ayahnya melarang Cofer untuk berkencan atau membina hubungan yang lebih jauh dengan lelaki kulit putih itu. Namun Cofer tidak mau dengar dan menyampaikan berbagai argumen karenanya. Pada akhirnya ayahnya hanya berpesan agar Ia tidak kecewa. Perkataan ayahnya terbukti benar. Suatu hari Ted memutuskan hubungan mereka karena dilarang oleh orang tuanya. Setelah mengetahui bahwa pacar Ted adalah orang berbahasa spanyol, Ia menyuruh Ted untuk meninggalkan perempuan itu.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2

2 Comments

  1. Sungguh kah sampai sekarang masih rassis demikian adanya di negeri orang bebas dan demokratis serta katanya menjunjung tinggi kesetaraan itu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,144 other subscribers

Top Blog