Novel review | Dimas Muharam

Posts Tagged "Novel review"

Juana’s character analytic in the novel The Pearl

Juana, one of the major characters in The Pearl, is the wife of Kino who appear always with her husband along the story. She is more educated, religious, and practically than Kino. We can see that she was religious when her son, coyotito, was stung by scorpion. At that time, she kept silent than used her emotion to kill the scorpion. She made a prayer and give her son’s destiny to the god although Kino want to save his son by killing the scorpion, at the result, gave bad impact for Coyotito. Furthermore, she was also more educated than kino by being the first person who realized to call a doctor for her son, in the meantime, Kino didn’t know what he had to do.

Read More

Pertentangan Budaya antar Generasi Imigran Dalam Novel Brick Lane KaryaMOnica Ali

Migrasi individu lintas budaya tak akan lepas dari masalah. Persinggungan dengan budaya baru dapat mengakibatkan resistensi dari individu, atau sebaliknya, pudarnya budaya asal untuk kemudian terjadi pembauran. Seperti apa yang di alami oleh Nazneen dan keluarganya di novel Brick Lane karya Monica Ali. Secara singkat, novel ini menyuguhkan kisah Nazneen, seorang gadis belia dari Bangladesh, yang dijodohkan dengan Chanu, seorang imigran Bangladesh paruh baya yang tinggal dan kerja di London, Inggris. Nazneen dibawa oleh Chanu sebagai seorang gadis desa yang akan selalu patuh kepada keinginan suami. ”She is an unspoilt girl. From the village.”(Ali, 2003: 10). Tinggal di daerah komunitas imigran Bangladesh Sylheti bernama Tower Hamlets, tak ada banyak perbedaan dengan lingkungan tempat asalnya. Ia tidak pernah pergi jauh dan hanya bergaul dengan tetangganya yang bernama Razia dan Mrs Islam. Masalah baru timbul ketika Nazneen memiliki dua orang anak perempuan. Chanu berencana untuk kembali ke Bangladesh agar kedua anaknya tidak tumbuh dengan budaya Barat.

Read More

Keterperangkapan Identitas pada Novel Untouchable

Kesadaran akan identitas sebagai manusia rendah di sebuah stratifikasi tertutup, mengharuskan seseorang merendahkan dirinya meski disadari pula, ada ketidak adilan di sana. Hal ini seperti seekor katak yang ingin melompat, namun ada tempurung kelapa yang menutupi ruang geraknya. Misal katak itu berusaha terus melompat, ia sadar tak akan membuat dirinya keluar dari sana. Pemahaman akan situasi ini membuat katak tersebut hanya diam dan pasrah. Sama halnya dengan seseorang yang dianggap sebagai “budak”. Dalam takaran diri sebagai manusia terperintah, ia harus menerima perlakuan apapun dari majikannya. Tak boleh melawan, karena itu bukan hak sebagai seorang budak. Melihat tokoh Bakha, posisinya sebagai lapisan terbawah dari kasta yang terbawah di stratifikasi masyarakat Hindu India, menjadikan hinaan dan caci maki orang yang berada di kasta lebih tinggi adalah sebuah suratan. Bahkan ketika ia sedang berjalan dan ada kontak fisik yang tak disengaja karena lupa memberitahukan kedatangan seorang tukang sapu, itu sudah menjadi sebuah penghinaan besar bagi orang kasta atas.

Read More

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,142 other subscribers

Top Blog