“Selamatkan Bumi Kita”. Mungkin kalimat tersebut adalah jargon yang sering kita dengan akhir-akhir ini. Apalagi dengan adanya istilah baru yang kita kenal dengan pemanasan global atau global warming. Tapi menurut saya pribadi, ada yang terdengar janggal dalam istilah tersebut. Kalimat “Selamatkan bumi kita”, terkesan seperti kita sebagai manusia, menyelamatkan bumi yang sedang dalam ancaman pihak di luar bumi. Kita seperti menghadapi ancaman yang di konteks ini, manusia adalah sebagai pihak yang terancam. Perubahan alam ini dipersalahkan atas ketidakstabilan bumi yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia. Pada faktanya, manusialah yang telah menyebabkan perubahan alam ini. Hilangnya hutan sebesar 2,8 juta hektar dalam setahun (Kapanlagi.com, 21 Mei 2005), adalah salah satu contoh perbuatan manusia yang merusak alam. Alam menjadi tidak stabil dan pada akhirnya, mempengaruhi kehidupan manusia juga. Hingga kita sadari, masalah sejatinya adalah pada diri manusia itu sendiri. Kesadaran manusia atas lingkungan telah mengalami dekadensi. Rasa kepedulian sesama manusia telah menurun drastis. Manusia tidak peduli lagi bahwa pengrusakan alam yang Ia lakukan, akan berdampak luas bagi dirinya dan orang lain. Oleh karena itu, kejiwaan manusia diarahkan kembali pada hakikat manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk lainnya. Ilmu psikologi atau ilmu tentang jiwa berperan penting dalam penyelamatan lingkungan yang dimulai dari diri tiap manusia. Hingga bisa kita katakan, jika alam kita rusak, maka hal tersebut disebabkan jiwa manusia pengelola alam tersebut yang juga rusak.