Teknologi, Peretas Batas Disabilitas

Teknologi, Peretas Batas Disabilitas

Perkembangan teknologi informasi merambah berbagai sendi kehidupan manusia. Anak peradaban ini telah banyak mempermudah kegiatan manusia, terutama di bidang komunikasi. Interaksi jarak jauh yang dahulu mahal dan sulit, tak menjadi kendala lagi di era modern. Perkembangan alat-alat telekomunikasi seperti radio, televisi, ponsel, komputer, dan internet telah mampu menjawab persoalan tersebut.

Tak hanya komunikasi, banyak hal luar biasa lain yang terwujud berkat teknologi informasi. Seperti hadirnya internet dan fasilitas surat elektronik atau email. Cukup dengan koneksi internet dan sebuah account free email, puluhan hingga ribuan pesan dapat terkirim ke pelosok dunia dalam waktu beberapa detik pada satu kali klik. Ini mungkin suatu hal yang setengah abad lalu belum terbayangkan manusia. Ketika pengiriman pesan masih melalui jasa pos yang memakan waktu lama. Ada pula saat ini teknologi 3G yang memungkinkan pengguna dapat berkomunikasi audiovisual secara real time. Seakan pihak yang diajak berkomunikasi berada langsung di depan mata pengguna. Terobosan-terobosan ini yang dulu mungkin hanya ada di cerita-cerita fiksi ilmiah, kini telah ada dan mengubah hidup manusia.

Namun, dari semua kemajuan tersebut ada kelompok masyarakat dunia ini yang seharusnya paling mendapatkan dampak positif. Mengapa “seharusnya”? Itu karena teknologi informasi saat ini masih relatif mahal untuk dijangkau semua orang. Mereka adalah para penyandang disabilitas, yang dahulu disebut dengan istilah penyandang cacat. Dengan sokongan teknologi informasi yang berkembang saat ini, berbagai hal yang selama ini membatasi mereka mulai teratasi.

Pernahkah anda bayangkan bagaimana tunanetra dapat membaca buku? Memang sudah dikenal ada sistem huruf khusus bagi mereka yang disebut Braille. Namun dengan bantuan teknologi informasi, mereka mampu membaca tanpa huruf braille. Apakah pernah terbayang pula, bagaimana mereka (tunanetra) mampu berselancar di internet? Mustahil tentu jika dipikirkan bahwa mereka tak mampu melihat tampilan yang ada di layar komputer. Namun faktanya, mereka bisa! Bahkan di antara mereka saat ini cukup akrab dengan dunia blogging dan pembuatan website atau situs internet.

Dalam artikel ini, akan dibahas bagaimana para penyandang disabilitas, khususnya tunanetra, mampu memanfaatkan teknologi informasi dalam rangka mengatasi keterbatasan fungsi penglihatannya. Dari mulai stereotip terhadap tunanetra yang berlaku di dalam masyarakat, permasalahan yang dihadapi, peranan teknologi informasi, hingga implementasi teknologi itu sendiri sebagai solusi bagi mereka. Oleh karenanya akan terlihat efek teknologi informasi yang mampu menjembatani ketertinggalan tunanetra untuk mencapai kesetaraan di masyarakat.

Masyarakat Indonesia pada umumnya masih melihat penyandang disabilitas sebagai kaum marginal. Mereka tersisih dari interaksi masyarakat karena dianggap tidak mampu melakukan apa yang dapat dilakukan oleh orang “normal”. Selain itu, penggunaan istilah cacat turut memberikan kesan segregatif antara mereka yang dianggap “cacat” dengan mereka yang merasa “normal”. Konotasi negatif dari kata tersebut dengan sendirinya telah menanamkan konsep bahwa mereka tak mampu hidup normal.

Hakikatnya, istilah disabilitas mengacu pada terbatasnya fungsi atau kemampuan seseorang yang diakibatkan oleh terganggunya fisik, mental, intelektual, atau indera tertentu. Apabila dipahami lebih jauh, pernyataan ini menjelaskan bahwa seorang penyandang disabilitas mengalami keterbatasan pada salah satu atau beberapa fungsi aktivitasnya sehingga memerlukan perlakuan khusus. Perlakuan khusus ini bukan sebagai bentuk pengistimewaan, melainkan usaha agar penyandang disabilitas mampu mencapai kesetaraan hak seperti anggota masyarakat yang lain.

Seperti contoh seorang tunanetra yang belajar di sekolah umum atau inklusi. Pada saat ujian, siswa yang nondisabilitas akan ujian dengan kertas soal dalam tulisan awas, pensil, dan pulpen. Di sini siswa tunanetra tentu tidak akan dapat mengikuti ujian jika menempuh cara yang sama dengan siswa nondisabilitas. Oleh karena itu, perlu perlakuan khusus dengan membacakan soal ujian atau memberikan soal ujian dalam format huruf braille. Dengan demikian, siswa tersebut tetap mendapatkan haknya untuk ikut ujian, meski dengan cara yang berbeda (perlakuan khusus).

Rekomendasi Artikel:

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2

4 Comments

  1. Penyandang idsabilitas juga harus bisa menikmati teknologi iinformasi saat ini.
    Tidak menyamakan persamaan hak anak penyandang disabilitas dg anak yang normal. Pengaruh banget itu buat mental si anak. :3

    TFS ^_^

    • betul sekali kak. karena sesungguhnya tiap orang punya kebutuhannya masing2. Tinggal bagaimana dan siapa yang dapat mengoptimalkannya

  2. Beneran aku sangat salut ama sampean bisa sangat produktif menulis.
    Aku masih menyimpat foto aku, sampean dan mas jarwadi pas di BN 2013 Looo

    • wah terima kasih kang. asal jangan foto saya dicrop terus dipakai buat alat usir tikus ya. hehe 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,144 other subscribers

Top Blog