*Esei ini pernah diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel multikulturalisme yang diselenggarakan oleh Departemen Sosial Politik BEM FIB Universitas Indonesia 2007*

Telur yang retak, itulah pengandaian yang penulis ambil untuk sebuah negara yang mengalami disintegrasi. Jika dilihat dari luar, cangkang telur terlihat kokoh dan keras. Tapi pada hakikatnya merupakan suatu yang rapuh dan mudah hancur. Ada satu titik saja cangkang yang retak, maka akan rusak pulalah isi telur. Jika kita andaikan, cangkang dari telur tersebut adalah persatuan sebuah negara bangsa. Kemudian untuk isi dari telur tersebut adalah kerukunan dan toleransi masyarakat di suatu negara. Singkat kata, akibat sedikit kerusakan, hancurlah telur itu.

Ini mirip dengan sebuah negara. Persatuan adalah suatu yang didamba seluruh rakyat. Jika dilihat dari luar, persatuan itu berkesan kokoh dan padu. Tapi, coba ada sedikit gesekan dalam persatuan. Akan sangat mudah pula rasa toleransi dan kerukunan hilang dari masyarakat. Etnis, suku, dan agama adalah isu-isu yang sering didengungkan sebagai pemicu konflik. Banyak provokator baik dari dalam atau luar negeri yang ingin merusak persatuan. Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan slogannya Bhineka Tunggal Ika, berusaha mengintegrasikan pluralisme majemuk dalam tubuhnya. Diawali dari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah cita-cita menjadikan bangsa Indonesia yang satu. Republik Indonesia harus menjadi sebuah telur yang utuh, dijaga dalam tempat aman, tak ada yang bisa membuatnya retak. Sekali sudah retak, tak ada jalan untuk memperbaikinya. Kecuali menggantinya dengan yang baru…

Separatisme berasal dari kata “Separate” dan akhiran isme. Separate berasal dari kata bahasa inggris yang berarti memisahkan dan menjarakkan. Ini berarti adalah suatu perbuatan atau aksi memisahkan diri dari pusat. Sedangkan untuk isme adalah akhiran yang bermakna paham. Sehingga dapat diperoleh makna dari separatisme yaitu pandangan seseorang atau kelompok yang ingin memisahkan diri dari tempat asal sebelumnya atau dari pada induknya.

Dari kata separatisme ini, dikenal juga istilah Separatisme Politis. Separatisme politis adalah suatu gerakan untuk mendapatkan kedaulatan dan memisahkan suatu wilayah atau kelompok manusia (biasanya kelompok dengan kesadaran nasional yang tajam) dari satu sama lain (atau suatu negara lain). Jadi bisa disimpulkan bahwa kata separatisme identik dengan pemisahan wilayah.

Orang atau kelompok yang melakukan separatisme disebut kaum separatis. Kelompok ini bisa melancarkan aksinya dengan cara-cara damai atau kekerasan. Cara damai misalnya dengan mengajukan petisi ke pemerintah sah yang berkuasa. Mereka juga bisa berdiplomasi ke organisasi dunia seperti Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Akantetapi, jalur kekerasan paling sering dilakukan. Mereka membentuk angkatan bersenjata sendiri yang sering disebut juga gerilyawan. Cara perjuangan secara sembunyi-sembunyi. Membuat teror di masyarakat dan kadang kala merampas harta penduduk atau pejabat sebagai modal perjuangan. Menurut penulis jalan kekerasan ini kontradiktif. Maksudnya adalah kontradiktif antara tujuan awal dan cara yang digunakan. Setiap pemberontakan, pasti memiliki alasan-alasan “suci” yang mereka proklamasikan. Pada intinya, mereka menjanjikan kehidupan yang lebih baik untuk rakyat jika membentuk pemerintahan sendiri. Tapi dengan cara kekerasan ini malah akan membuat rakyat resah dan mengurangi dukungannya pada gerakan tersebut.

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya separatisme. Faktor yang paling sering adalah ketimpangan antara pusat daerah. Ketimpangan ini bersumber dari masalah ekonomi yaitu distribusi pendapatan yang tidak merata. Di negara yang baru berkembang, pembangunan masih terpusat di kota-kota besar. Daerah sering merasa diperlakukan tidak adil dalam hal ini. Contoh yang sangat jelas dan sudah terjadi di Indonesia adalah lepasnya Provinsi Timor Timur dari NKRI. Para pejuang kemerdekaan Timor Timur menganggap Indonesia adalah penjajah. Integrasi Timor timur tahun 1976 berdasarkan proklamasi Balibo 1974, dianggap tidak merefleksikan aspirasi rakyat Tim-Tim. Aktivis Partai Fretiline yang memperjuangkan Timor Timur merdeka terus berjuang baik jalur diplomasi dengan dukungan AS dan Australia, atau konfrontasi militer.

Contoh lain dari separatisme di Indonesia adalah kasus Gerakan Aceh Merdeka atau GAM. Tapi gerakan tersebut akhir-akhir ini relatif mereda. Setelah diadakannya persetujuan Helsiski tahun 2005, kedua pihak berkomitmen untuk melakukan rekonsiliasi. Gerakan separatis ini dipicu alasan historis. Aceh merasa pada awalnya memang bukan bagian dari Republik Indonesia. Wilayah Indonesia berdasarkan hasil sidang BPUPKI adalah meliputi bekas jajahan Hindia Belanda. Sedangkan Aceh merasa mereka belum takluk sepenuhnya oleh pemerintahan Hindia Belanda. Bahkan sampai tahun 1900-an masih terjadi perang antara Rakyat Aceh dan Belanda. Isu lainnya adalah masalah agama. Aceh tidak mengakui pemerintahan pusat yang dianggapnya sekuler. Mereka menginginkan berlaku sistem syariah Islam di tanah Rencong. Oleh karena itu, dalam persetujuan Helsinki, pihak Indonesia mengakomodasi keinginan tersebut. Realisasinya adalah Undang-undang Pemerintahan Aceh. Aceh berhak untuk menerapkan sistem syariah Islam dan boleh membentuk pemerintahan yang otonom termasuk membentuk partai lokal. Partai lokal ini pada akhirnya menimbulkan polemik karena berdirinya Partai GAM. Dikhawatirkan GAM ingin menghimpun kekuatan kembali dan merebut kekuasaan secara politis.

Rekomendasi Artikel:

Kata Kunci

Sudah Baca yang Ini?

Pages: 1 2 3 4