The Voice of Diffable People at ASEAN Literary Festival 2015

The Voice of Diffable People at ASEAN Literary Festival 2015

Jakarta – Sastra dan tulisan menjadi sarana berekspresi, advokasi, sekaligus peluang profesi untuk penyandang disabilitas atau difabel. Itu pernyataan utama yang aku sampaikan ketika menjadi perwakilan dari Kartunet sebagai salah satu pembicara di sesi The voice of Difable People, pada perhelatan ASEAN Literary Festival 2015 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta 21 Maret 2015.

ASEAN Literary Festival adalah event tahunan yang menjadi ajang para sastrawan-sastrawati serta pegiat dunia sastra lainnya untuk menunjukkankarya, mengapresiasi, pertukaran sastra dan budaya, atau sekedar menikmati sastra dari bangsa-bangsa di Asia Tenggara. di ASEAN Literary Festival tahun 2015 diadakan dari tanggal 15 hingga 22 Maret 2015 yang berupa road show serta screening film di beberapa universitas di Jabodetabek, diskusi dunia sastra dan penerbitan di area Taman Ismail Marzuki, pembacaan malam puisi, dan talkshow serta workshop. Satu hal yang special di ALF 2015 ini adanya sesi The voice of Diffable People yang memberikan ruang dalam sastra untuk penyandang disabilitas. Menjadi lebih special lagi karena hadir pula Signmark, seorang musisi tunarungu dari Finlandia, yang merupakan seorang tunarungu atau tuli pertama yang menandatangani kontrak dengan label musik ternama.

Dimas Prasetyo Muharam di ASEAN Literary Festival 2015

Kali ini Kartunet mendapat kehormatan untuk berpartisipasi menjadi pembicara diskusi The Voice of Diffable People dan juga mengisi stand booth di sekitar Taman Ismail Marzuki. Di booth, kami gunakan untuk berjualan dua buku kompilasi tulisan dari komunitas menulis Kartunet yang sebagianpenulisnya adalah para tunanetra. Buku pertama yaitu Merpati Berjari 6, sebuah kumpulan fabel, dan Yang (tak) Terlupakan, antologi cerpen.

Sedang pada sesi workshop, kami yang hadir dari Kartunet yaitu Irfan Priadi, Mbak Cyntia, dan aku naik ke stage bersama dengan musisi tunarungu dari Finlandia, Mr. Signmark. Bertindak sebagai moderator Low Kok Wai, seorang dosen drama dan teater dari University of Brunei Darussalam (UBD) asal Singapura. Wai di Singapura juga punya project mengadakan pentas seni untuk para difabel juga, oleh karena itu beliau tak asing lagi dengan program screen reader yang para tunanetra gunakan ketika kami breafing sebelum acara.

Pada sesi diskusi, aku menyampaikan peranan sastra untuk penyandang disabilitas atau difabel. Bahwa dengan sastra atau dunia tulis-menulis, dapat menjadi media untuk berekspresi, advokasi, sekaligus jadi profesi. Lewat sastra, seorang difabel dapat mengaktualisasikan dirinya, memperkenalkan dunia dan kemampuan yang dimilikimelalui sarana bahasa. Lewat sastra, para difabel dapat menyuarakan suara yang selama ini tak bersuara. Kami dapat mengkabarkan kepada dunia siapa kami, apa yang kami inginkan, dan hal-hal apa yang perlu diperbaiki dalam dunia ini dalam tulisan. Juga melalui sastra, profesi sebagai menulis dapat menjadi peluang lapangan kerja yang memungkinkan untuk difabel. Sebab dengan pengalaman dan sudut pandang yang unik, hal tersebut dapat memberi warna tersendiri dalam sastra.

Akan tetapi, semua hal itu dapat terwujud dengan dukungan teknologi. Dengan teknologi komputer bicara yang dilengkapi oleh program pembaca layar atau screen reader, seorang tunanetra dapat menulis. Membaca buku dan referensi sastra pun dapat ditemui di internet. Semua itu mungkin bahkan media baru seperti blog dan social media, dapat dijadikan sarana untuk ekspresi. Hasilnya pun sudah jelas, salah satunya yaitu dengan buku kompilasi tulisan dari Komunitas Kartunet.

Dimas Prasetyo Muharam with Kartunet and Mr. Signmark from Finland

Satu hal mengesankan yang baru aku fikirkan saat berada di atas panggung dan aku sampaikan ke Wai dan para audience, bahwa sesi The voice of Diffable People itu menghadirkan hal-hal luar biasa yang dapat dilakukan lewat sastra yang selama ini dianggap masyarakat mustahil. Bayangkan saja, kami dari Komunitas Kartunet, menghadirkan wawasan pada audience bahwa para tunanetra, yang notabenya terbatas dalam indera penglihatan, dapat berkecimpung dalam dunia sastra, tulis-menulis, dan media dengan dukungan teknologi. Sesuatu yang mustahil sebelumnya di fikiran masyarakat awam karena menulis identik dengan penglihatan, sedang kami dapat lakukan itu semua. Selain itu, kehadiran Signmark, musisi tunarungu juga jadi sebuah pendobrakan wacana. Bahwa musik yang identik dengan suara dan pendengaran, ternyata juga dapat dinikmati bahkan jadi profesi dari seorang tunarungu asal Finlandia. Meski cara performence musik yang berbeda, tapi musik dari Signmark dapat dinikmati oleh semua orang tanpa terkecuali.

Apresiasi harus diberikan kepada panitia penyelenggara ASEAN Literary Festival 2015, khususnya project director acara ini mbak Okky Madasari yang juga seorang penulis. Sebab ALF kali ini menyuguhkan suasana baru dan secara langsung menyatakan pada masyarakat bahwa sastra juga milik para penyandang disabilitas. Tentu apa yang sudah dilakukan sudah maksimal, tapi ada hal-halyang dapat dijadikan masukan untuk ALF berikutnya. Seperti yang disampaikan oleh teh Cucu Saidah, seorang paralegia yang juga hadir sebagai audience, bahwa perlu disediakan penerjemah bahasa isyarat yang lebih memadai dalam tiap sesi di ASEAN Literary Festival. Bukan hanya sesi the Voice of Diffable People, tapi juga sesi workshop dan lainnya agar dapat dinikmati secara inklusif. Juga setting tempat sekiranya agar diperhitungkan mengenai akses yang mudah untuk para pengguna kursi roda. Misal disediakan bidang lantai sebagai pengganti tangga berundak. Namun dari semua itu, itikat dari panitia untuk membuat event ini inclusive for all sudah patut mendapat acungan jempol.

Dimas Prasetyo Muharam di ASEAN Literary Festival 2015 Jakarta

Semoga ASEAN Literary Festival tahun depan lebih besar dan kembali dapat melibatkan para difabel. Aku juga berjanji dalam hati ingin dapat namaku masuk dalam jajaran Speaker and Artist di ALF berikutnya dengan karyaku, dengan buku dan tulisan-tulisan yang aku hasilkan di hari-hari kemudian. Bahwa sastra milik semua orang, tanpa terkecuali apalagi diskriminasi. Oia, aku juga senang sekali di acara ini dapat bertemu dengan teman lama di jurusan Sastra Inggris UI, Om Yoel F Kaban, sudah hampir empat tahun ternyata dari sejak lulus S1 lalu tapi dia masih ajdi teman yang terbaik. terus juga terima kasih ke para panitia dan LO yang sudah bantu kami selama ada di Taman Ismail Marzuki.(DPM)

Rekomendasi Artikel:

Sudah Baca yang Ini?

4 Comments

  1. Assalamualaikum Brow, pa kabarnya nih? Wah makin eksis aja nih KartuNet nya. Tetap semangad ya Sob… 🙂

    • Waalaikumsalam.. halo mas Dwi, Alhamdulillah baik. mas Dwi yang blogger Borneo ya? apa kabar mas? udah lama nih ga ada acara gathering blogger nasional lagi. semoga bisa ketemu di lain waktu 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,142 other subscribers

Top Blog