Totalitas Pembangunan Tim Sepakbola Kelas Dunia

Totalitas Pembangunan Tim Sepakbola Kelas Dunia

Sebagai olahraga terpopuler di seantero bumi, sepertinya tak ada warga dunia yang tidak mengenal sepakbola. Tiap bangsa dimanapun berada, ingin ikut berpartisipasi dalam supremasi tertinggi sepakbola empat tahunan ini. Sama halnya dengan Indonesia, momen penting dalam sejarah sepakbola seperti World Cup tak pernah lewat begitu saja. Namun amat disayangkan, sejak republik ini merdeka 65 tahun lalu, belum pernah sekalipun tim nasional sepakbolanya masuk ke putaran final Piala Dunia.

Bangsa ini secara ironis selalu hanya menjadi penonton tim nasional negara lain yang berlaga di pentas Piala Dunia. Bahkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Nielsen, Indonesia menempati posisi teratas dari segi jumlah penonton televisi yang menyaksikan siaran langsung pertandingan di Piala Dunia Afrika Selatan 2010. Hal ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Indonesia amat gemar terhadap sepakbola meski bukan tim nasionalnya sendiri yang ditonton. Namun, mengapa fakta ini tidak berbanding lurus dengan prestasi tim nasionalnya?

Jawaban mendasar dari permasalahan ini terletak pada bagaimana sepakbola dikelola di dalam masyarakat. Sejauh ini, sepakbola tidak dibangun secara progresif dan menyeluruh. Kebijakan para petinggi yang menangani persoalan sepakbola masih terkesan instan dan tidak berkesinambungan.

Contoh sederhana ada pada masalah pelatih. Tim nasional Indonesia tercatat telah beberapa kali menggunakan service dari pelatih asing. Namun ada seperti kesalahan mindset yang dipahami oleh PSSI. Kesan yang ada, ketika sudah mengontrak pelatih asing dalam jangka waktu dua atau tiga tahun, ada tuntutan kepada pelatih untuk tim nasional harus dapat menjuarai sebuah kompetisi tingkat regional atau internasional. Memang ini bukanlah sebuah ekspektasi yang buruk. Namun, ketika pelatih tersebut tidak mampu membawa tim nasional pada ekspektasi yang ada, konsekuensi yang didapatkan adalah pemecatan. Hal ini sudah tentu amat tidak baik bagi tim. Dengan gonta-gantinya pelatih, maka pelatih baru harus memulai dari nol lagi agar bisa membangun sebuah tim yang baik. Amat buang waktu. Bahkan tim sekaliber Manchester United, butuh waktu beberapa tahun bagi Sir Alex Ferguson sebelum bisa membawa timnya ke dalam track juara di Inggris.

Oleh karena itu, urgensi bagi PSSI untuk membangun tim nasional yang mampu berprestasi di pentas dunia harus dilakukan secara total. Perlu ada pembinaan anak-anak bangsa dari usia dini untuk mengenal dan mencintai sepakbola. Buat kompetisi yang teratur dan tersosialisasi dengan baik untuk anak-anak mulai dari usia sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pengelolaan untuk hal ini harus dilakukan secara profesional, sebab selain akan melahirkan calon-calon pesepakbola baru, atmosfer dalam kompetisi akan turut pula melatih sikap mental anak bangsa yang sportif. Sudah tentu, penanaman sikap ini akan amat bermanfaat baik untuk menjadi pemain sepakbola atau warga negara kelak.

Di samping itu, pemberian motivasi masyarakat dari luar lapangan pun perlu dibuat agar benar-benar menciptakan atmosfer sepakbola yang kental. Salah satu contoh nyata adalah apa yang diterapkan oleh Jepang lewat kartun Kapten Tsubasa. Dengan adanya film kartun tersebut, pembakar semangat dan persuasi untuk mencintai sepakbola akan lebih mudah dicerna oleh anak-anak. PSSI pun harus mengadopsi ide ini. Buat media serupa yang sesuai dengan kultur bangsa Indonesia. Sebab tanpa adanya rasa cinta terhadap sesuatu, mustahil seseorang akan dapat total dalam hal itu. Lihatlah Jepang. Siapa Jepang dalam sepakbola internasional 20 tahun yang lalu? Kini Jepang telah mampu berkompetisi di kelas dunia, bahkan ketika harus berhadapan dengan tim-tim Eropa.

Masa ketika tim merah-putih berlaga di ajang Piala Dunia, pasti akan menjadi momen yang amat diharapkan oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Penantian panjang ini sudah tentu ingin menemui hasilnya. Namun, pecinta sepakbola nasional masih akan tetap bersabar jika ada langkah progresif dan berkesinambungan dalam membangun tim nasional dari awal. Membangun tim nasional sepakbola yang kuat, dari kaki-kaki anak bangsa yang terus berlari hingga pentas dunia berhasil dijejaki.

Dimas Prasetyo Muharam
Mahasiswa program studi Inggris Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI

*diterbitkan di kolom Suara Mahasiswa koran Seputar Indonesia edisi 25 Oktober 2010

Rekomendasi Artikel:

Sudah Baca yang Ini?

2 Comments

  1. Yup. menurut saya juga seperti itu. kita perlu sistem yang mampu mengakomodasi semua potensi yang dimiliki oleh bangsa ini.

  2. pembangunan mentalitas serta totalitas terhadap sepak bola indonesia memang harus dilakukan secara teratur dan berkesinambungan, bibit2 generasi muda perlu diberikan ruang untuk mengasah kemampuannya, seperti yang disebutkan pada artikel di atas , diadakannya liga2 mulai dari usia sekolah dasar hingga perguruan tinggi, karena jujur pada saat jaman sekolah dasar saya dahulu kurang lebih 15 tahun lalu banyak anak yang pandai bermain bola, tetapi karena kurangnya kompetisi serta dukungan pemerintah saat itu, maka bakat yang seharusnya bisa di asah jadi hilang.. serta pergantian pelatih yang terlalu sering juga dapat mempengaruhi team, sehingga hasil team kurang maksimal.. siapa tahu 10 – 15 tahun mendatang tim nasional kita bisa berpatisipasi dalam ajang 4 tahun sekali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow My Blog

Silakan daftarkan alamat email kamu untuk mendapatkan notifikasi tiap kali ada tulisan baru, gratis!

Join 7,142 other subscribers

Top Blog